Jumat, 20 Juli 2018

Penyebab Leukimia, gejala dan cara mengobati yang paling ampuh


Penyakit Leukimia merupakan salah satu mimpi buruk bagi sebagaian orang. Bagaimana tidak, Leukimia tergolong penyakit yang dapat menggerogoti daya tahan tubuh dengan cepat.

Pertengahan tahun 2017 lalu, Ferry Wijaya suami dari artis Ririn Ekawati meninggal dunia lantaran Leukimia. Kanker darah yang dialami oleh Ferry Wijaya diketahui sudah dideritanya sejak empat tahun sebelumnya. Baru-baru ini, anak dari penyanyi Denada, didiagnosis oleh dokter mengidap Leukimia. Putri cantik bernama Shakira tersebut masih berusia 5 tahun dan kini terbaring di Rumah Sakit di Singapura sejak 1,5 bulan belakangan.

Penyebab Leukimia sebenarnya sudah banyak dibahas di berbagai sumber. Mulai dari buku, jurnal, bahkan di internet pun tidak kurang-kurang. Namun tetap saja ada sejumlah orang yang tidak tahu penyebab Leukimia yang sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Ini tidak bisa disepelekan mengingat efek dari Leukimia cukup mengerikan.

Sebelum membahas tentang penyebab Leukimia, alangkah baiknya kita tahu dulu apa itu Leukimia.

Leukimia adalah...


Leukimia adalah kanker yang menyerang sel darah dan sumsum tulang belakang, atau dikenal juga dengan kanker darah. Leukimia memengaruhi produksi dan fungsi leukosit atau sel darah putih dalam melawan infeksi, karena DNA darah mengalami kerusakan. Kondisi tidak normal tadi menyebabkan sumsum tulang belakang memroduksi sel darah putih secara berlebihan. Hal ini mengakibatkan penumpukan dalam sumsum tulang dan mengurangi jumlah sel darah yang sehat.

Nah, berikut ini kita akan membahas penyebab Leukimia yang jarang diketahui kebanyakan orang.

Penyebab Leukimia


Penyebab Leukimia secara umum sebenarnya belum diketahui secara pasti. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab Leukimia, mulai dari kelainan kromosom, paparan polusi, paparan radiasi, merokok, obesitas, dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, penyebab Leukimia bisa berasal dari faktor eksternal dan internal tubuh. Faktor penyebab Leukimia secara eksternal adalah termasuk paparan radiasi, polusi, zat kimia tertentu yang berbahaya.

Paparan radiasi


Sebuah penelitian menemukan bahwa radiasi dalam jumlah rendah tetap bisa meningkatkan risiko seseorang terkena leukimia. Itulah sebabnya wanita yang sedang hamil sangat tidak disarankan untuk melakukan rontgen atau pemeriksaan sinar X. Hal ini untuk menjaga agar risiko si jabang bayi terkena leukimia bisa ditekan.

Unsur kimia Radon


Anda juga harus waspada dengan Radon. Unsur kimia dengan sifat radioaktif yang berwujud gas tidak berwarna serta tidak berbau ini, ternyata secara alami bisa ditemukan di lingkungan sekitar dan masuk ke dalam rumah. Bila terhirup, partikel alpha yang dipancarkan radon berpotensi menyebabkan kanker leukimia. Salah satu sumber produksi Radon datang dari proses pemecahan alami dari uranium. Proses ini bisa terdapat dari bebatuan volkanik dan dari tanah. Namun, dalam beberapa kasus, air sumur pun ada yang mengandung Radon. Jadi, selalu pastikan ventilasi rumah Anda memadai dan udara bisa mengalir dengan baik, karena Radon yang lebih berat dari udara biasanya akan mengendap dekat dengan lantai. Cek juga sumber air di rumah Anda.

Benzena


Selain dalam bensin, senyawa kimia organik yang dikenal dengan nama benzena atau benzol ini juga banyak digunakan dalam produksi obat, plastik, bensin, karet buatan, tinta printer, serta pewarna rambut. Padahal, benzena ini ternyata bersifat karsinogenik atau bisa menyebabkan kanker! Anda juga bisa terpapar benzena dalam kadar tinggi bila merokok atau menggunakan shisha dengan tambahan tembakau. Semakin sering dan semakin banyak Anda terpapar benzena, risiko Anda terkena kanker leukimia juga akan semakin tinggi.

Rokok dan kopi


Lagi-lagi rokok menjadi penyebab penyakit mematikan. Sebuah studi di tahun 2009 menunjukkan bahwa risiko terkena leukimia bukan hanya bagi orang dewasa yang merokok, tapi juga anak dengan orangtua perokok, termasuk bila orangtua sudah merokok sebelum masa kehamilan. Ini dikarenakan karsinogen yang ada dalam rokok diserap oleh paru-paru dan dialirkan melalui pembuluh darah. Sedangkan data dari studi French ESCALE tahun 2013 memperlihatkan hasil bahwa meminum lebih dari 2 cangkir kopi setiap hari selama masa kehamilan bisa sedikit meningkatkan risiko bayi terkena leukimia.

Obesitas


Masih belum mulai menjalankan pola makan sehat dan olahraga teratur? Ayo segera bulatkan niat, karena orang yang mengalami obesitas atau berat badan berlebih memiliki risiko terkena kanker leukimia yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal.

Meski belum ada praktik yang benar-benar terbukti bisa mencegah leukimia, para dokter dan peneliti merekomendasikan Anda untuk berhenti merokok, menjalankan gaya hidup sehat, menghindari radiasi, menghindari paparan terhadap bahan kimia (termasuk lem, produk pembersih rumah, detergen, serta cat lukis), serta melakukan pemeriksaan darah secara rutin.

Gejala Leukimia


Secara umum, gejala Leukimia di tahap awal tidak begitu terlihat. Namun, Anda dapat mewaspadai salah satu gejala Leukimia berikut ini yang timbul.

  • Anemia dan gejala yang terkait, seperti kelelahan, pucat di bibir, pucat di konjungtiva mata bisa menjadi salah satu tanda gejala leukemia.
  • Kecenderungan untuk memar atau mudah berdarah, termasuk perdarahan dari gusi dan hidung, atau darah dalam tinja atau urine bisa menjadi salah satu gejala leukemia.
  • Selain itu, gejala leukemia salah satunya juga kerentanan terhadap infeksi seperti sakit tenggorokan atau pneumonia bronkial, yang bisa disertai dengan sakit kepala, demam ringan, sariawan, atau ruam kulit.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening, biasanya di tenggorokan, ketiak, atau selangkangan.
  • Kehilangan nafsu makan dan berat badan juga merupakan salah satu gejala leukemia.
  • Ketidaknyamanan di bawah tulang rusuk kiri bawah (yang disebabkan oleh limpa bengkak).
  • Jumlah sel darah putih yang sangat tinggi dapat mengakibatkan masalah penglihatan karena perdarahan retina, telinga berdenging (tinnitus), perubahan status mental, ereksi berkepanjangan (priapismus), stroke, ataupun kejang karena perdarahan di otak. Jika beberapa gejala leukemia ini muncul, maka siapa pun harus waspada.

Cara mengobati Leukimia


Pada dasarnya cara mengobati Leukimia bisa dibilang harus dengan seksama. Pasalnya, tujuan pengobatan Leukimia ini adalah untuk menghancurkan sel-sel kanker dan memungkinkan sel darah yang normal dibentuk di dalam sumsum tulang. Keputusan pengobatan leukemia didasarkan pada jenis leukemia yang dimiliki, stadium penyakit, usia dan kondisi kesehatan secara umum.

Jenis leukimia sendiri dilihat melalui pemeriksaan mikroskopis sumsum tulang, apakah jenis leukimia limfoblastik atau mieloblastik. Pemeriksaan ini juga dapat menentukan apakah leukimianya masuk kategori akut atau kronis.

Leukimia Limfoblastik akut


Cara mengobati leukemia limfoblastik akut (ALL) memiliki 3 langkah yang terdiri atas tahap induksi, konsolidasi, dan pemeliharaan.

Leukimia mieloblastik akut


Pengobatan leukemia mieloblastik akut (AML) didasarkan pada susunan genetik dari sel myeloid normal. Rencana pengobatannya biasanya memiliki 2 langkah yang meliputi induksi remisi dan terapi pasca-remisi.

Terdapat subtipe dari AML disebut promyelocytic leukemia akut, sehingga pasien mendapatkan obat-obatan lain, seperti arsenik trioksida dan obat all-trans retinoic acid (ATRA). Transplantasi sel induk dan kemoterapi juga digunakan ketika leukemia tidak respon terhadap pengobatan atau jika AML kambuh kembali.

Leukemia Limfositik Kronis (CLL)


Berikut ini adalah pilihan pengobatan leukemia limfositik kronis, diantaranya:

  • Terapi radiasi. Ini dapat digunakan untuk mengobati kelenjar getah bening yang bengkak karena terlalu banyak limfosit abnormal.
  • Cara ini merupakan kombinasi dari obat leukemia, termasuk antibodi monoklonal.
  • Ketika CLL tidak respon terhadap pengobatan, atau jika kambuh kembali setelah pasien telah reda gejalanya selama beberapa waktu tertentu, cara mengobati leukemia yang seperti ini adalah dengan kemoterapi lebih atau transplantasi sumsum tulang.

Pasien CLL tidak mampu melawan infeksi dengan baik. Pasien dan dokter perlu untuk waspada dan memeriksa apakah ada tanda-tanda infeksi, seperti pneumonia (infeksi paru) atau infeksi jamur. Pengobatan dini akan membantu pasien bertahan hidup lebih lama. Obat leukemia disesuaikan dengan tingkat keparahan leukemia yang dideita oleh pasien.

Leukimia Mieloblastik Kronis


Leukimia mieloblastik kronis (CML) perlu diobati dengan segera. Bagi orang-orang yang baru didiagnosis pada tahap awal CML (fase kronis), tyrosine kinase inhibitor dapat bekerja selama bertahun-tahun. Jika pasien tidak menunjukkan kekambuhan, pasien tidak perlu melakukan transplantasi sumsum tulang. Tetapi jika pasien kambuh, sebaiknya pasien melakukan transplantasi sumsum tulang.

Sementara untuk orang-orang yang didiagnosis CML pada tahap selanjutnya (fase akselerasi atau fase krisis blast), pengobatan mungkin melibatkan kemoterapi atau tyrosine kinase inhibitor sebelum dilakukannya transplantasi sumsum tulangguna meningkatkan kemungkinan keberhasilan operasi transplantasi sumsum tulang. 

0 komentar:

Posting Komentar